Siak Sri Indrapura – pa-siak.go.id

Ibadah puasa erat kaitannya dengan kepemimpinan. Mengapa, karena bagi orang yang puasanya ingin bernilai, segala ucapan dan tindakannya akan mempunyai kontrol diri. Ia paham betul apa yang dilakukannya akan dipinta pertanggung jawabannya. Ia tidak akan mudah mengobral janji, tidak menjadi bagian yang kiranya dapat menyulut perkelahian, tidak menebar kebencian, dan tidak akan pernah menyakiti kepada sesama. Kondisi ini semua akan tercipta manakala diri kita mampu untuk mengendalikannya.


Allah SWT berfirman:
ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا
Artinya: "...Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan dipinta pertanggungjawabannya." (QS al-Isra [17]: 36).

Ada satu diksi yang patut kita renungkan. Pasca kemenangan Nabi SAW dan para sahabat atas kaum jahiliyah di perang Badar, Nabi berpesan bahwa umat Islam baru saja kembali dari perang kecil yaitu melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadhan menuju kepada perang yang lebih besar, yakni perang melawan hawa nafsu di luar Ramadhan.

Dengan demikian, seseorang yang mampu menjadikan ibadah puasa di bulan Ramadhannya sebagai bagian untuk memperbaiki diri, untuk meluluh lantahkan nafsu angkara murkanya, maka ia akan menghadapi bulan-bulan berikutnya dengan penuh optimisme. Pada waktu yang sama pula ia akan menjadi sang pemimpin sejati, bukan saja memimpin untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi pemimpin untuk alam sekitarnya. Mengapa, karena ia sadar apa yang ia perbuat akan kembali pada dirinya sendiri.

Allah SWT berfirman: فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
Artinya: "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS az-Zalzalah [99]: 7-8)

(M_BG)